Arsip Artikel

Mengapa Jumlah Pemakai Kondom Sedikit ?



Keandalan kondom sebagai pencegah dari infeksi menular seksual telah diteliti para ahli. Pakar kesehatan di seluruh dunia juga menganjurkan penggunaan kondom. Namun, mengapa jumlah pemakai kondom masih sedikit?

Banyak yang beranggapan kondom sebagai kendala dalam hubungan seks.

Todd Callahan, Country Director DKT Indonesia, mengungkapkan, sejak tahun 1996, ketika DKT pertama kali mendistribusikan kondom di Indonesia, sampai saat ini baru terdistribusi 736 juta kondom. "Sejak tahun 1996 peningkatannya baru enam kali. Jumlah itu masih sedikit sekali kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia," katanya.

Dalam kehidupan nyata memang masih banyak orang yang beranggapan kondom menjadi kendala bagi pasangan untuk menikmati hubungan seksual. Padahal, produsen kondom kini sudah menyediakan berbagai pilihan aroma dan bentuk kondom yang bisa memberikan sensasi lebih saat digunakan.

Irwan Julianto, jurnalis senior yang banyak bergelut di bidang HIV/AIDS, melihat alasan kondom kurang populer di Indonesia adalah penggunaan alat kontrasepsi berbentuk sarung ini belum jadi kebiasaan.

"Di tahun 1990-an kebanyakan pengidap HIV/AIDS di Jepang adalah pasien hemofilia yang tertular melalui jarum suntik transfusi darah. Ini karena orang Jepang terbiasa memakai kondom sejak remaja sehingga mereka terhindar dari penyakit menular seksual," katanya dalam acara penutupan Pekan Kondom Nasional 2010 yang diadakan oleh DKT Indonesia dan Komisi Penanggulangan AIDS, Kamis (20/1/2011) di Jakarta.

Alasan lain, menurut Irwan, adalah rendahnya partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana. "Sejak dulu yang jadi sasaran KB hanyalah wanita. Makanya, hanya 1 persen pria di Indonesia yang mau ikut pakai kontrasepsi," katanya.

Lekatnya stigma kondom dengan hal-hal yang terkait maksiat juga membuat masyarakat menjauhi kondom. Padahal, pendekatan hitam putih tidak efektif untuk mengampanyekan penggunaan kondom.

"Jangan melihat kondom sebagai promosi seks bebas. Kondom harus dilihat sebagai faktor penekan epidemi HIV/AIDS karena faktanya kini penularan HIV banyak terjadi pada hubungan suami-istri yang terikat dalam perkawinan," ungkapnya.

Para pria pelanggan seks komersial itu biasanya menolak menggunakan kondom saat "jajan" sehingga ia rentan menularkan HIV kepada istrinya. "Lebih celaka lagi jika karena menolak kondom pria-pria ini malah menyebabkan anaknya lahir dengan HIV karena tertular dari ibunya," katanya.

Pemerintah tahun 2011 menargetkan penggunaan kondom hingga 70 persen. "Jika angka penggunaan kondom tidak sampai angka itu, epidemi HIV/AIDS tidak bisa dikendalikan," kata dr Vonny J Silfanus dari Komisi Penanggulangan AIDS.

Karena itu, kini pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak tengah menggiatkan penggunaan kondom, terutama pada orang yang berisiko. Salah satunya ialah dengan pemberian edukasi dan upaya pemberdayaan pekerja seks komersial (PSK) dan orang di sekitarnya.

"Para PSK diberi edukasi tentang pentingnya kesehatan reproduksi sehingga mereka punya posisi tawar lebih tinggi untuk memaksa pelanggannya memakai kondom. Akses pada tersedianya kondom juga terus dilakukan bekerja sama dengan pihak swasta dan LSM," ujarnya.

sumber : http://health.kompas.com/index.php/read/2011/01/20/15304578/Mengapa.Kondom.Tak.Populer